Search

Blog Archive

Ada kesalahan di dalam gadget ini

27/06/10

PENGARUH LINGKUNGAN KERJA DAN KEBIJAKAN KEPALA SEKOLAH TERHADAP PRESTASI KERJA GURU SMPN ……………… KABUPATEN ………………

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan diharapkan dapat membentuk manusia yang berkualitas yang memiliki kemampuan untuk memanfaatkan, mengembangkan, dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Untuk mendukung pembangunan ekonomi, sosial budaya, dan berbagai bidang lainnya, pendidikan merupakan wahana dan sekaligus sarana untuk membangun manusia baik sebagai insan, sumberdaya, maupun anggota masyarakat dalam kerangka pembangunan nasional (Joyonegoro,1998: 2). Dengan demikian, pendidikan bertugas menyiapkan sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan menghadapi dan menyesuaikan berbagai perubahan, sebagai akibat pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang. Kunci utama untuk meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia guna meningkatkan prestasi kerja adalah melalui pendidikan yang berkualitas tinggi. Pendidikan yang berkualitas tinggi hanya dapat dihasilkan oleh sistim pendidikan yang berkualitas tinggi pula.
Tantangan umum pembangunan pendidikan nasional dalam era globalisasi ini adalah bagaimana membangun sistim pendidikan nasional agar makin mampu membentuk manusia dan masyarakat Indonesia yang maju dan mandiri serta tanggap menghadapi perubahan jaman, perkembangan iptek, dan tuntutan pembangunan nasional (Joyonegoro, 1998: 2). Untuk menjawab tantangan tersebut, bangsa Indonesia memerlukan sumber daya manusia yang berkualitas, dan salah satu tolok ukurnya adalah tingkat pendidikan.
Sistim pendidikan nasional menyatakan bahwa penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur yaitu: jalur pendidikan luar sekolah dan pendidikan sekolah (Joyonegoro, 1998: 3). Kualitas sumberdaya manusia dapat diketahui melalui tingkat pendidikan, sesuai latar belakang pendidikan dengan tugas yang diemban, keterampilan dalam melaksanakan tugas, kemampuan bekerja sama, rasa tanggung jawab yang tinggi, kemampuan berkomunikasi, berinisiatif, dan sebagainya. Kualitas dimaksud akan menjadi daya dukung yang tinggi dalam pelaksanaan tugas pelayanan kepada masyarakat di bidang pendidikan pada umumnya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumberdaya manusia harus menjadi prioritas, sehingga pada gilirannya akan mampu memberikan pelayanan prima.
Lingkungan kerja yang di dalamnya termasuk lingkungan sosial mempunyai peranan penting dalam menumbuhkan motivasi kerja terhadap pegawai. Lingkungan kerja yang kondusif sangat menentukan, karena secara langsung dapat berpengaruh terhadap motivasi para pekerja yang ada di dalam organisasi yang bersangkutan.
Lingkungan kerja yang mendukung suasana kerja akan memberikan kesenangan, keamanan, kesehatan, ketenangan, sehingga karyawan dapat melaksanakan tugas-tugasnya secara maksimal. Melalui lingkungan kerja yang kondusif karyawan memperoleh peluang untuk meningkatkan produktivitas kerjanya, yang merupakan bagian dari sebagai pegawai negeri. Harkat dan martabat karyawan yang mendapatkan perhatian, akan memberikan keleluasaan pada diri karyawan untuk mengembangkan dirinya baik dari segi kualitas dan kuantitas, yang akan berpengaruh terhadap prestasi kerja guru pada kantor sekolah.
Lingkungan kerja berhubungan dengan iklim kerja. Dan iklim kerja akan mempengaruhi iklim organisasi yang berdampak pada tingkah laku anggota organisasi yang bersangkutan. Agar anggota organisasi mau dan mampu menciptakan suasana harmonis dalam hubungan kerjanya, maka seorang pimpinan harus dapat memotivasi para pekerjanya agar mereka dapat bekerja dengan baik. Motivasi begitu penting karena dengan motivasi ini diharapkan setiap individu pekerja mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas kerja yang lebih tinggi (Sedarmayanti, 1996: 5).
Di samping lingkungan kerja, prestasi guru pun menjadi perhatian. Guru yang berprestasi adalah guru yang selain dapat menciptakan suasana tenang di hati anak didik, juga melalui daya kreativitasnya dapat membawa para siswa menjadi orang-orang yang berbudi, berdisiplin, pandai dan bertanggung jawab.
Selain itu, ia pun mau berinteraksi dengan lingkungannya dan menjadi penggerak ke arah pembaharuan. Di mata pimpinannya, seorang guru dikatakan berprestasi, bukan hanya ditentukan oleh kemampuannya dalam menghantarkan siswa-siswanya berhasil, tetapi juga sejauhmana guru tersebut mau dan mampu melaksanakan kebijakan-kebijakan atasannya dengan penuh tanggung jawab. Dengan perkataan lain, seorang pendidik memiliki ciri “menjunjung tinggi harkat dan martabat peserta didik, berbakti kepada peserta didik, menjadi teladan dalam berperilaku, mengembangkan profesi secara kontinu.” (Sedarmayanti, 1996: 6)
Kepala sekolah merupakan manajer pada organisasi kependidikan. Salah satu tugasnya adalah pengambilan keputusan (decision making) untuk membuat suatu kebijakan. Kebijakan kepala sekolah akan dijadikan haluan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Dengan demikian, segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan pendidikan di sekolah sangat dipengaruhi oleh baik tidaknya kebijakan sekolah. Walaupun hal tersebut bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi terselenggara tidaknya suatu pendidikan di sekolah, namun cukup memberikan pengaruh yang besar terhadap penyelenggaraan pendidikan.
Penyelenggaraan pendidikan yang kurang berkembang bukan hanya disebabkan kurangnya fasilitas, namun lebih banyak disebabkan oleh kegagalan dalam kepemimpinan kepala sekolah terutama dalam memanfaatkan sumber daya, baik orang maupun barang secara maksimal. Sebagaimana dinyatakan bahwa,
Ketidakmampuan kepala sekolah ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan keterampilan yang bila ditinjau lebih lanjut, bagi mereka yang pernah dilatih ataupun ditatar belum memangku jabatan kepala sekolah maupun setelah menjadi kepala sekolah pelatihan atau penataran tersebut kurang menyentuh aspek yang substansial yang berarti apa sebenarnya yang diperlukan oleh mereka (Permadi, 1998: 5).

Guru merupakan salah satu komponen yang memungkinkan terjadinya penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Prestasi guru dalam melaksanakan tugas kependidikannya dipengaruhi oleh kebijakan kepala sekolah. Dengan pernyataan lain, kebijakan kepala sekolah akan dijadikan landasan kerja oleh seorang guru.
Prestasi guru bukan saja dituntut oleh kepala sekolah sebagai pimpinannya. Lebih jauh dari itu seorang guru bertanggung jawab terhadap orang tua siswa yang menitipkan putra-putrinya untuk mendapat pendidikan yang layak sesuai dengan perkembangan usianya. Namun demikian, prestasi guru saja belum cukup untuk mencapai tujuan pendidikan khususnya di sekolah, tetapi faktor partisipasi masyarakat pun dituntut.
Rendahnya prestasi kerja guru ditandai dengan kepercayaan orang tua untuk menyekolahkan anaknya pada sekolah tersebut. Pada tahun-tahun yang lalu SMP Negeri selalu menerima siswa baru tidak kurang dari 7 kelas dengan tergolong katagori kelas besar. Namun sejalan dengan bertambahnya sekolah sebagai alternatif pilihan, jumlah siswa pun menyusut. Tidak terpilihnya suatu sekolah oleh orang tua siswa dapat memberikan salah satu indikasi bahwa prestasi kerja guru kurang baik di mata orang tua siswa sebagai pengguna jasa.

B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah di atas dapat diidentifikasi beberapa faktor yang diprediksi dapat mempengaruhi prestasi kerja guru, antara lain:
1) Jarak tempuh sekolah ditinjau dari kemudahan menjangkau, ketersediaan sarana angkutan umum, dan sarana kepentingan umum yang tersedia.
2) Hubungan dengan atasan dan sesama rekan kerja.
3) Kebijakan kepala sekolah yang berhubungan dengan pembagian tugas oleh kepala sekolah, pendelegasian wewenang, keuangan, kesiswaan dan sebagainya.

C. Rumusan dan Batasan Masalah
1. Perumusan Masalah
Berdasar pada identifikasi masalah di atas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1) Seberapa besar pengaruh lingkungan kerja terhadap prestasi kerja guru?
2) Seberapa besar pengaruh kebijakan kepala sekolah terhadap prestasi kerja guru?
3) Seberapa besar pengaruh lingkungan kerja dan kebijakan kepala sekolah secara bersama-sama terhadap prestasi kerja guru?

2. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini penulis melakukan pembatasan masalah sebagai berikut:
1) Pengaruh lingkungan kerja terhadap prestasi kerja guru.
2) Pengaruh kebijakan kepala sekolah terhadap prestasi kerja guru.
3) Pengaruh lingkungan kerja dan kebijakan kepala sekolah terhadap prestasi kerja guru.

Tidak ada komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini